Hari Jumat. Anak-anak masih menghadapi Ulangan Kenaikan Kelas (UKK). Hari Jumat ini mereka menjalani ulangan untuk dua mata pelajaran.

Ada sedikit kejanggalan yang kurasakan. Sebagian anak sepertinya menganggap bahwa selama UKK peraturan sekolah ndak berlaku seperti biasanya. Setiap hari Jumat, seragam siswa dan guru adalah seragam Pramuka. Hari Jumat ini, dalam UKK ini, semua guru pengawas berpasangan. Ketika aku masuk ke ruang ujian, aku menghitung berapa anak yang mengenakan dasi Pramuka. Lima belas!
Lima belas dari tiga puluh dua anak itu ndak lebih dari 50 persen. Menurutku ini adalah kegagalan, karena lebih dari setengah isi kelas mengabaikan peraturan. Naluri yang muncul adalah kehendak untuk menegur mereka yang ndak mentaati peraturan. Namun niat itu kubatalkan ketika aku menoleh ke arah pasangan mengawasku. Ah...dia juga ndak pake dasi Pramuka.
Tes untuk mata pelajaran pertama selesai. Setelah beristirahat sejenak, anak-anak kembali masuk ke ruang ujian untuk mengikuti tes mata pelajaran kedua. Aku mengawas di ruangan yang berbeda dan dengan pasangan yang berbeda juga. Lagi-lagi...aku menghitung berapa anak yang mengenakan dasi. 22 dari 34 anak. Kira-kira dua per tiganya. Dan lagi-lagi...sebelum menegur mereka yang ndak mengenakan dasi, aku menoleh ke arah pasanganku. Aaahh...alasan yang sempurna untuk ndak jadi menegur. Dia pake baju batik!!!
Guruku...berilah kami sedikit teladan, bukan sejuta instruksi di bibir saja.

Ada sedikit kejanggalan yang kurasakan. Sebagian anak sepertinya menganggap bahwa selama UKK peraturan sekolah ndak berlaku seperti biasanya. Setiap hari Jumat, seragam siswa dan guru adalah seragam Pramuka. Hari Jumat ini, dalam UKK ini, semua guru pengawas berpasangan. Ketika aku masuk ke ruang ujian, aku menghitung berapa anak yang mengenakan dasi Pramuka. Lima belas!
Lima belas dari tiga puluh dua anak itu ndak lebih dari 50 persen. Menurutku ini adalah kegagalan, karena lebih dari setengah isi kelas mengabaikan peraturan. Naluri yang muncul adalah kehendak untuk menegur mereka yang ndak mentaati peraturan. Namun niat itu kubatalkan ketika aku menoleh ke arah pasangan mengawasku. Ah...dia juga ndak pake dasi Pramuka.
Tes untuk mata pelajaran pertama selesai. Setelah beristirahat sejenak, anak-anak kembali masuk ke ruang ujian untuk mengikuti tes mata pelajaran kedua. Aku mengawas di ruangan yang berbeda dan dengan pasangan yang berbeda juga. Lagi-lagi...aku menghitung berapa anak yang mengenakan dasi. 22 dari 34 anak. Kira-kira dua per tiganya. Dan lagi-lagi...sebelum menegur mereka yang ndak mengenakan dasi, aku menoleh ke arah pasanganku. Aaahh...alasan yang sempurna untuk ndak jadi menegur. Dia pake baju batik!!!
Guruku...berilah kami sedikit teladan, bukan sejuta instruksi di bibir saja.