Monday, October 9, 2017

Pemimpin Upacara

Beberapa anak udah mengajukan diri menjadi petugas upacara bendera.

Ya...kelas kami mendapat giliran jadi petugas upacara bendera. Tinggal satu posisi yang belum terisi - pemimpin upacara. Tak ada satu anak pun yang punya nyali jadi pemimpin upacara. Mentok. Macet. Ndak ada akhirnya.

Entah apa yang terlintas, Tuhan seperti membisikkan satu nama di telingaku.
"Nicole...kamu jadi pemimpin upacara. Kamu pengurus OSIS dan sudah pernah ikut latihan kepemimpinan. Sekarang waktumu untuk memimpin."
"Aduh...saya takut pingsan. Saya kan gampang pingsan."

Dua hari berlalu. Di luar kelas, teman-teman Nicole di kepengurusan OSIS memprotesku. Mereka kasihan pada Nicole karena aku memaksanya. Mereka setuju bahwa Nicole gampang pingsan. Aku pikir mereka adalah teman-teman yang akan mendukung...ternyata dugaanku salah.
Di kelas, aku bilang pada Nicole, "Apakah kamu gampang pingsan karena fisikmu lemah? Atau jangan-jangan...hanya pikiranmu yang membuatmu lemah? Ayo kita buktikan!" "Oke, saya akan coba!"

Deg-degan juga pagi itu. Aku cari Nicole yang udah siap dengan kostum petugas upacaranya. Aku cuma bisa nanya, "Kamu sehat?" "Sehat. Saya ndak akan pingsan." Jawaban yang mantap.

Sepanjang upacara, beberapa anak - juga aku - siap 'menangkap' Nicole kalo tiba-tiba dia jatuh pingsan. Tapi hingga upacara berakhir, Nicole tetap berdiri di posisinya. Ketika peserta upacara dibubarkan...aku menghampirinya..."Selamat! Kamu berhasil!"

Pikiran positif memang punya kekuatan
Dan aku meyakininya. Mari berpikiran positif!

Thursday, July 27, 2017

Kado Kecil

Hari Minggu sore itu Kinar minta dianterin ke toko stationery. Dia bilang, sekarang di tempat les missnya minta anak-anak ngasih kado kalo ada yang berulang tahun. Ndak usah mahal-mahal, maksimal 25 ribu aja. Si miss mau ngajarin anak-anak untuk memberi perhatian pada temen yang berulang tahun. Itulah sebabnya dia minta dianterin ke toko buat beli kado untuk Tasya.

Kinar senang kalo dia dikasih kado. Dia berpikir semua orang senang mendapat kado. Itulah alasannya dia ngasih kado untuk temennya. Dia bilang dia ngasih kado biar Tasya senang, karena waktu Kinar ulang tahun, cuma missnya yang ngasih kado, padahal missnya udah ngingetin temen-temennya.
"Makanya aku mau kasih kado, biar Tasya ndak kecewa seperti waktu aku ulang tahun," kata Kinar.

Kecewa itu pengalaman yang ndak enak, tapi kecewanya Kinar membuatnya ndak mau orang lain mengalami kekecewaan yang sama. I love you, Kinar!

Biarlah rasa kecewamu menjadi peringatan untuk ndak mengecewakan orang lain.

Kere Pun Dipelihara Tuhan

Ronnie namanya. Itu kata orang-orang. Ada yang bilang namanya Johny. Ada yang bilang Donny. Aku sebut aja Ronnie ndak papa ya. Sore itu Ronnie mondar-mandir di jembatan, membentur-benturkan kepalanya di pagar jembatan. Betul! Ronnie adalah orang gila, kere (gelandangan) di kompleksku. Kadang-kadang pake baju, kadang-kadang bagian atas badannya yang bekas kekar terbuka. Dia tidur di sembarang tempat. Di mana dia ngantuk dan pingin tidur, di situlah dia tidur (Enak ya...ndak seperti kita yang ndak bisa tidur kalo tempatnya ndak nyaman).

Suatu pagi aku beli lontong sayur buat sarapan. Aku liat kere yang lain (bukan Ronnie) berdiri di depan warung. Dia cuma berdiri aja, diam di situ (mungkin sambil berdoa minta rejeki pada Tuhan). Ndak lama si tukang lontong sayur menyerahkan sebungkus lontong sayur pada kere itu. Dia terima bungkusan sarapan itu lalu pergi tanpa membayar.

Aku jadi inget beberapa kali Ronnie berdiri diam di depan warung-warung atau tukang-tukang makanan di kompleksku. Dan ketika dia mendekat, biasanya si penjual makanan langsung tanggap...dan meyerahkan sebungkus makanan pada Ronnie. Siapa yang bikin aturan seperti itu? Aturan memberi pada yang miskin dan membutuhkan?

Jangan khawatir akan hidupmu hari ini, Nak. Karena Tuhan akan selalu memeliharamu. Ronnie dan kere-kere lain pun dipelihara oleh Tuhan, apalagi kalian anak-anakNya yang selalu percaya pada pertolonganNya.

Friday, June 16, 2017

Kang Ri

Dulu...aku kuliah di Jogja. Jadi anak kos. Anak kos yang selalu survive, meskipun tidak pegang uang sama sekali. Uang untuk hidup tidak dihitung bulanan. Aku musti menghitungnya harian. Setiap hari harus bisa bertahan hidup. Sehabis 'gajian' (gaji dari orang tua), hidup terasa sangat mudah dan sangat mewah (jangan membayangkan kata mewah secara berlebihan!). Di pertengahan bulan, hidup mulai lebih mikir...mikir bagaimana bisa bertahan sampai 'gajian' lagi. Di akhir bulan, tidak usah dibahas....

Dengan hitungan harian, aku jadi sering pergi ke warung di seberang jalan buat beli kebutuhan sehari-hari. Tidak mungkin untuk belanja bulanan...membeli kebutuhan hidup sebulan.

Kang Ri, nama panggilan si empunya warung. Orangnya tidak banyak bicara. Warungnya kecil...biasa. Tak terhitung berapa kali aku sudah belanja di warungnya Kang Ri. Namun baru setelah sekian lama aku sadar..kenapa aku suka belanja di warungnya. Secara tidak aku sadari, aku tidak pernah repot ketika belanja di warungnya. Semua kebutuhan praktis tersedia di sana. Pelayanannya cepat. Dia tahu persis letak barng-barang dan harganya. Dan satu hal penting adalah...Kang Ri selalu punya uang kembalian. Dia tidak pernah meminta konsumennya menunggunya untuk menukar uang lebih dulu. Dia sudah siap sejak awal dia membuka pintu warungnya. Itulah yang dia yakini sebagai 'service' kepada konsumen. Ketika konsumen terlayani dengan baik...dia puas. Sederhana....

Anak muda, cobalah.... Puas itu sederhana...berikan yang terbaik sejak kalian bangun pagi mengawali hari. Seperti Kang Ri...memberikan 'service' yang baik itu membawa kepuasan....
Tak banyak bicara, tak lelah berkarya....