Suatu sore aku berkunjung
ke rumah teman lama. Sambil menikmati kopi di balkon lantai dua rumahnya yang
dihiasi dengan bermacam-macam tanaman hias, kami asyik mengobrol tentang
apapun, tentang masa lalu, masa sekarang maupun masa depan. Salah satu yang aku
ingat adalah ketika temanku bercerita tentang pengasuh anaknya yang baru, yang
katanya pernah bekerja di Amerika. Ketika si pengasuh diminta menyuapi anak
temanku yang berumur satu setengah tahun, dia tidak membantah, namun dengan
setengah menggurui dia menceritakan pengalamannya bahwa di Amerika dia tidak
diperbolehkan menyuapi anak majikannya. Katanya di sana anak-anak dibiarkan
belajar makan sendiri meskipun belepotan di sekitar mulut, di pakaian, maupun
di sekitar tempat mereka makan. Pada akhirnya anak-anak kecil itu bisa
melakukan aktivitas makan dengan baik menggunakan naluri mereka, dengan melihat
contoh sehari-hari bagaimana orang dewasa makan, dan tentu saja dilengkapi
dengan arahan atau petunjuk dari orang tua atau pengasuhnya. Itulah baby led weaning, yang bisa diterapkan
ketika bayi berumur 6 bulan atau ketika bayi mulai bisa makan makanan padat
yang lunak.
Naluri! Ya, naluri! Tuhan
memang luar biasa. Tuhan sudah merancang semuanya. Aku meyakini bahwa Tuhan
memberikan kepada setiap orang naluri untuk belajar hal-hal baru, bahkan sejak
bayi. Aku juga meyakini setiap orang dianugerahi naluri untuk beradaptasi dan
bertahan dengan kondisi dan situasi di sekitarnya. Serbuan virus Corona ke
tempat kita telah menciptakan kondisi dan situasi yang baru. Pada saat inilah Tuhan
meminta kita untuk mengaktifkan naluri belajar dan beradaptasi, yang mungkin
sebelumnya kurang aktif karena kita berada dalam zona nyaman kita.
Pada masa awal pandemi,
ketika kita dilarang pergi ke sekolah dan harus belajar atau mengajar dari rumah,
aku tidak terlalu kaget. Pertama, karena aku bisa memberikan tugas kepada
peserta didik seperti ketika aku sakit atau ijin tidak hadir di sekolah di masa
sebelum pandemi ini. Kedua, aku merasa bahwa proses belajar mengajar dari rumah
hanya berlangsung sementara, tidak lama. Satu minggu, dua minggu, tiga minggu,
entah sampai minggu ke berapa berlangsung aktivitas seperti itu. Akhirnya
sampailah pada titik di mana aku berpikir keadaan ini akan berlangsung lama dan
aku tidak bisa berlama-lama dengan aktivitas yang monoton seperti itu. Setiap
hari setiap malam aku berpikir dan belajar bagaimana membuat pembelajaran yang
lebih hidup dan lebih menarik.
Aku baru tahu Kahoot beberapa
minggu sebelum diputuskan SFH (Study From
Home) dan WFH (Work From Home) atau
PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Belum lancar menggunakannya, akhirnya virus
Corona mendarat di Tangerang, dan PJJ pun dimulai. Seiring waktu PJJ berjalan, aku
yang baru saja tahu cara menggunakan Kahoot, harus mengikuti
pelatihan-pelatihan tentang Google Form, Google Meet, Zoom Meeting, Quizizz,
aplikasi-aplikasi untuk membuat video dan lain-lain yang sebelumnya tidak
pernah kugunakan itu untuk pembelajaran di kelas. Aku tidak pintar dan tidak bisa
langsung menggunakan berbagai aplikasi setelah mengikuti pelatihan. Biasanya
pelatihan-pelatihan disampaikan dengan sangat cepat, sebelum aku bisa mencerna
sudah melompat ke tahap berikutnya. Aku selalu ketinggalan. Aku harus belajar lagi
dengan mencari-cari sendiri dan juga banyak mencoba meskipun masih belepotan
seperti bayi yang belajar makan sendiri. Seperti bayi yang di awal proses baby lead weaning diberikan finger food atau makanan yang bisa
digenggam, aku pun memilih aplikasi dan model belajar yang bisa kumasukkan
dalam genggamanku untuk diterapkan dalam PJJ.
Kalau dipikir-pikir, aku
lebih banyak makan sendiri daripada disuapi. Aku lebih banyak mencari solusi
dan mencoba-coba sendiri daripada ingat apa yang diberikan pada saat
pelatihan-pelatihan. Namun, seperti bayi yang didampingi orang tua atau
pengasuhnya ketika belajar makan sendiri, aku pun berada di lingkungan yang
sangat kondusif untuk belajar. Yayasan Tarakanita, pimpinan dan rekan kerja
selalu menyemangati dan banyak berbagi tentang hal-hal yang tak terpikirkan
sebelumnya, sehingga proses belajarku bisa berjalan lebih cepat.
Syukuri, syukuri dan
syukuri. Ini bukan situasi yang mencekam dan penuh ketakutan. Coba dengar apa
yang Tuhan kehendaki. Dengan kondisi dan situasi pandemi saat ini, Tuhan
mengingatkan kita untuk mengaktifkan naluri belajar dan beradaptasi kita yang
selama ini kita tidurkan di zona nyaman kita. Tidak perlu takut dengan
perubahan keadaan karena Tuhan sudah mempersenjatai kita dengan naluri belajar
dan beradaptasi yang sedemikian rupa. Kita juga punya lingkungan yang kondusif.
Mari kita saling berbagi semangat dan kebaikan, lima roti dan dua ikan. Satu
hati, satu semangat, Tarakanita yes!
No comments:
Post a Comment