Saturday, January 2, 2021

BABY LED WEANING

Suatu sore aku berkunjung ke rumah teman lama. Sambil menikmati kopi di balkon lantai dua rumahnya yang dihiasi dengan bermacam-macam tanaman hias, kami asyik mengobrol tentang apapun, tentang masa lalu, masa sekarang maupun masa depan. Salah satu yang aku ingat adalah ketika temanku bercerita tentang pengasuh anaknya yang baru, yang katanya pernah bekerja di Amerika. Ketika si pengasuh diminta menyuapi anak temanku yang berumur satu setengah tahun, dia tidak membantah, namun dengan setengah menggurui dia menceritakan pengalamannya bahwa di Amerika dia tidak diperbolehkan menyuapi anak majikannya. Katanya di sana anak-anak dibiarkan belajar makan sendiri meskipun belepotan di sekitar mulut, di pakaian, maupun di sekitar tempat mereka makan. Pada akhirnya anak-anak kecil itu bisa melakukan aktivitas makan dengan baik menggunakan naluri mereka, dengan melihat contoh sehari-hari bagaimana orang dewasa makan, dan tentu saja dilengkapi dengan arahan atau petunjuk dari orang tua atau pengasuhnya. Itulah baby led weaning, yang bisa diterapkan ketika bayi berumur 6 bulan atau ketika bayi mulai bisa makan makanan padat yang lunak.

Naluri! Ya, naluri! Tuhan memang luar biasa. Tuhan sudah merancang semuanya. Aku meyakini bahwa Tuhan memberikan kepada setiap orang naluri untuk belajar hal-hal baru, bahkan sejak bayi. Aku juga meyakini setiap orang dianugerahi naluri untuk beradaptasi dan bertahan dengan kondisi dan situasi di sekitarnya. Serbuan virus Corona ke tempat kita telah menciptakan kondisi dan situasi yang baru. Pada saat inilah Tuhan meminta kita untuk mengaktifkan naluri belajar dan beradaptasi, yang mungkin sebelumnya kurang aktif karena kita berada dalam zona nyaman kita.

Pada masa awal pandemi, ketika kita dilarang pergi ke sekolah dan harus belajar atau mengajar dari rumah, aku tidak terlalu kaget. Pertama, karena aku bisa memberikan tugas kepada peserta didik seperti ketika aku sakit atau ijin tidak hadir di sekolah di masa sebelum pandemi ini. Kedua, aku merasa bahwa proses belajar mengajar dari rumah hanya berlangsung sementara, tidak lama. Satu minggu, dua minggu, tiga minggu, entah sampai minggu ke berapa berlangsung aktivitas seperti itu. Akhirnya sampailah pada titik di mana aku berpikir keadaan ini akan berlangsung lama dan aku tidak bisa berlama-lama dengan aktivitas yang monoton seperti itu. Setiap hari setiap malam aku berpikir dan belajar bagaimana membuat pembelajaran yang lebih hidup dan lebih menarik.

Aku baru tahu Kahoot beberapa minggu sebelum diputuskan SFH (Study From Home) dan WFH (Work From Home) atau PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Belum lancar menggunakannya, akhirnya virus Corona mendarat di Tangerang, dan PJJ pun dimulai. Seiring waktu PJJ berjalan, aku yang baru saja tahu cara menggunakan Kahoot, harus mengikuti pelatihan-pelatihan tentang Google Form, Google Meet, Zoom Meeting, Quizizz, aplikasi-aplikasi untuk membuat video dan lain-lain yang sebelumnya tidak pernah kugunakan itu untuk pembelajaran di kelas. Aku tidak pintar dan tidak bisa langsung menggunakan berbagai aplikasi setelah mengikuti pelatihan. Biasanya pelatihan-pelatihan disampaikan dengan sangat cepat, sebelum aku bisa mencerna sudah melompat ke tahap berikutnya. Aku selalu ketinggalan. Aku harus belajar lagi dengan mencari-cari sendiri dan juga banyak mencoba meskipun masih belepotan seperti bayi yang belajar makan sendiri. Seperti bayi yang di awal proses baby lead weaning diberikan finger food atau makanan yang bisa digenggam, aku pun memilih aplikasi dan model belajar yang bisa kumasukkan dalam genggamanku untuk diterapkan dalam PJJ.

Kalau dipikir-pikir, aku lebih banyak makan sendiri daripada disuapi. Aku lebih banyak mencari solusi dan mencoba-coba sendiri daripada ingat apa yang diberikan pada saat pelatihan-pelatihan. Namun, seperti bayi yang didampingi orang tua atau pengasuhnya ketika belajar makan sendiri, aku pun berada di lingkungan yang sangat kondusif untuk belajar. Yayasan Tarakanita, pimpinan dan rekan kerja selalu menyemangati dan banyak berbagi tentang hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya, sehingga proses belajarku bisa berjalan lebih cepat.

Syukuri, syukuri dan syukuri. Ini bukan situasi yang mencekam dan penuh ketakutan. Coba dengar apa yang Tuhan kehendaki. Dengan kondisi dan situasi pandemi saat ini, Tuhan mengingatkan kita untuk mengaktifkan naluri belajar dan beradaptasi kita yang selama ini kita tidurkan di zona nyaman kita. Tidak perlu takut dengan perubahan keadaan karena Tuhan sudah mempersenjatai kita dengan naluri belajar dan beradaptasi yang sedemikian rupa. Kita juga punya lingkungan yang kondusif. Mari kita saling berbagi semangat dan kebaikan, lima roti dan dua ikan. Satu hati, satu semangat, Tarakanita yes!

(Disalin dari refleksi dalam rangka Carolus Day 2020)


No comments:

Post a Comment